Sabtu, 20 Juni 2015

Anatomi Organ Reproduksi Betina

Sistem Reproduksi Betina

1. Ovarium
Ovarium merupakan organ seks primer betina yang bertanggung jawab atas diferensiasi dan pelepasan oosit matang untuk fertilisasi dan perkembangbiakan dari spesies. Ovarium juga merupakan organ endokrin yang memproduksi hormon steroid (estrogen dan progesterone)  yang memungkinka berkembangnya cirri-ciri seksual betina skunder dan mendukung kebuntingan. Ovarium terdapat 2 buah yaitu disebelah kanan dan kiri yang terletak didalam rongga pelvis. Strukturnya oval, ovarium tidak terikat dengan tuba falopii dengan saluran telur yang terbuka kea rah fimbriae.
Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum abdiminalis. Ia mempunyai dwi fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur (ova) dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormon kelamin betina (estrogen dan progesteron). Pada sapi dan domba, ovarium berbentuk oval, namun pada kuda berbentuk seperti ginjal karena ada fossa ovulatorus yakni suatu legokan pada pinggir ovarium. Pada babi, ovarium berupa gumpalan anggur, folikel-folikel dan corpora lutea menutupi jaringan-jaringan ovarial di bawahnya. Pada sapi, ovarium bervariasi dalam ukuran panjang, lebar, dan tebal. Umumnya ovarium kanan lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara fisiologik lebih aktif.
            Folikel-folikel pada ovarium mencapai kematangan melalui tingkatan perkembangan yaitu folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier (folikel yang sedang tumbuh), dan folikel de Graaf (folikel matang). Folikel primer terdiri dari satu “bakal sel telur” yang pada fase ini disebut oogonium dan selapis sel folikuler kecil. Folikel sekunder berkembang ke arah pusat stroma korteks sewaktu kelompok sel-sel folikuler. Yang memperbanyak diri membentuk suatu lapisan multi seluler sekeliling vitellus. Pada stadium ini terbentuk suatu membran antara oogonium dan sel-sel folikuler, disebut zona pellucida.
            Folikel tersier timbul sewaktu sel-sel pada lapisan folikuler memisahkan diri untuk membentuk lapisan dan sutu rongga (antrum), ke arah oogonium akan menonjol. Antrum dibatasi oleh banyak lapisan sel folikuler yang dikenal secara umum sebagai membrana granulose dan diisi oleh suatu cairan jernih Liquor foliculi yang kaya akan protein dan estrogen.
            Folikel de Graaf adalah folikel matang yang menonjol melalui korteks ke permukaan ovarium bagaikan suatu lepuh. Pertumbuhannya meliputi dua lapis sel stroma korteks yang mengelilingi sel-sel folikuler. Lapisan sel-sel tersebut membentuk theca folliculi yang dapat dibagi atas theca interna yang vascular dan theca externa yang fibrous.



2. Tuba Falopii atau oviduk
Pangkal dari tubafalopii terdapat fimbrae dan ostium. Fimbrae adalah struktur bentuk corong yang berfungsi menangkap ovum yang telah diovulasi oleh ovarium dan aka diteruskan kearah tubafalopii melalui ostium. Tubafalopii merupakan saluran reproduksi betina yang kecil, berliku-liku dan kenyal serta terdapat sepasang dan merupakan saluran penghubung antara ovarium dan uterus.
Oviduk atau tuba fallopii merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil berliku-liku, dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya. Pada sapi dan kuda, panjang oviduk mencapai 20--30 cm dengan diameter 1,5--3 mm. oviduk tergantung pada mesosalpink. Ia dapat dibagi atas infundibulum dengan fimbriae-nya, ampula, dan isthmus.
            Ujung oviduk dekat ovarium membentang ternganga membentuk suatu struktur berupa corong (infundibulum). Muara infundibulum (ostium abdominale) dikelilingi oleh penonjolan-penonjolan ireguler pada tepi ujung oviduk (fimbriae). Pada saat ovulasi, pembuluh-pembuluh darah pada fimbriae penuh berisi darah yang mengakibatkan pembesaran dan penegangan fimbriae. Penegangan ini diiringi oleh kontraksi otot-otot menyebabkan ostium tuba fallopii mendekati permukaan ovarium untuk menerima ovum matang yang akan dilepaskan.
            Ampula tuba fallopii merupakan setengah dari panjang tuba dan bersambung dengan daerah tuba yang sempit, isthmus. Pada saat ovulasi, ovum disapu ke dalam ujung oviduk yang berfimbrial. Kapasitas sperma, fertilisasi, dan pembelahan embrio terjadi di dalam tuba fallopii. Cairan luminal tuba fallopii merupakan lingkungan yang baik untuk terjadinya fertilisasi dan permulaan perkembangan embrional. Cairan dihasilkan oleh lapisan epitel tuba karena pengaruh hormon ovarial. Pertemuan utero-tubal mengatur pengangkutan sperma dari uterus ke tuba fallopii dan transpor embrio dari tuba ke dalam uterus.


3. Uterus
Uterus biasanya memiliki dua pasang tanduk yaitu Kornua uteri, satu buah tubuh yang disebut dengan corpus uteri dan satu buah leher rahim yang disebut juga dengan servik uteri.
Uterus terdiri dari kornu, korpus, dan serviks. Proporsi relatif masing-masing bagian berbeda-beda antar spesies. Uterus babi tergolong bicornis  dengan kornu yang sangat panjang tetapi korpusnya sangat pendek. Uterus sapi, domba, dan kuda kedua kornu dan korpus uteri yang cukup panjang (paling besar pada kuda).
            Dari segi fisiologik, hanya dua lapisan uterus yang dikenal yaitu endometrium dan miometrium. Endometrium adalah suatu struktur glanduler yang terdiri dari lapisan epitel yang membatasi rongga uterus, lapisan glanduler, dan jaringan ikat. Miometrium merupakan bagian muskuler dinding uterus yang terdiri dari dua lapis otot polos, selapis dalam otot sirkuler, dan selapis luar otot longitudinal yang tipis.
            Permukaan dalam uterus ruminansia mengandung penonjolan-penonjolan seperti cendawan dan tidak berkelenjar, disebut caruncula. Uterus sapi memiliki 70--120 caruncula yang berdiameter 10 cm dan terlihat seperti spon karena banyak lubang-lubang kecil (crypta) yang menerima villi chorionok placental. Villi-villi chorion hanya berkembang pada daerah tertentu pada selubung faetus (cotyledon) yang memasuki caruncula. Cotyledon dan caruncula bersama-sama disebut placentoma. Uterus kuda dan babi tidak mempunyai caruncula.


Tipe bentuk uterus hewan ada bermacam-macam, antara lain:

1.    Uterus Simpleks
Uterus tipe Sipleks ini dimiliki oleh primata dan mamalia sejenis.Uterus tipe ini mempunyai servik uteri, korpus uteri nya jelas dan tidak memiliki kornua uteri.
2.    Uterus Bipartitus
Uterus tipe Bipartitus ini dimiliki oleh sapi, domba, anjing, kucing, dan kuda. Uterus tipe ini mempunyai satu servik, korpus uteri jelas terutama pada kuda, mempunyai kornua uteri, dan terdapat sebuah septum pemisah kedua kornua uteri.
3.    Uterus Bikornis
Uterus tipe Bikornis ini dimiliki oleh babi. Korpus uterus sangat pendek, sebuah servik dan kornua uteri panjang serta berkelok-kelok.
4.    Uterus Duplek
Uterus tipe duplek ini dimiliki oleh tikus, mencit, kelinci, dan marmot. Uterus tipe ini memiliki dua korpus uteri, dan dua servik.
5.    Uterus Delphia
Uterus tipe delphia ini dimiliki oleh hewan berkantung, seperti opossum, kanguru, dan platypus. Semua saluran kelaminnya terbagi dua yaitu dua kornua uteri, dua korpus uteri, dua servik, dan dua vagina.
                            



GAMBAR TIPE-TIPE UTERUS
Uterus mempunyai fungsi-fungsi yang penting untuk perkembangbiakan ternak. Pada waktu perkawinan, kontraksi uterus mempermudah pengangkutan sperma ke tuba fallopii. Sebelum implantasi, uterus mengandung cairan yang merupakan medium bersifat suspensi bagi blastocyt, sesudah implantasi uterus merupakan tempat pembentukan plasenta dan perkembangan fetus.
            Fungsi lain uterus adalah adanya hubungan kerja secara timbal balik dengan ovarium. Adanya korpus luteum akan merangsang uterus menghasilkan PGF2α yang berfungsi untuk regresi korpus luteum secara normal. Stimulasi uterus selama fase permulaan siklus birahi mempercepat regresi korpus luteum dan menyebabkan estrus dipercepat.

4.  Serviks
            Serviks adalah suatu struktur berupa sphincter yang menonjol ke kaudal ke dalam vagina. Serviks dikenal dari dindingnya yang tebal dan lumen yang merapat. Dindingnya ditandai dengan berbagai penonjolan.
            Pada ruminansia penonjolan-penojolan ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng transversal dan saling menyilang disebut cincin-cincin annuler. Cincin-cincin ini sangat nyata pada sapi (biasanya 4 buah) yang dapat menutup rapat serviks. Pada babi, cincin-cincin tersebut tersusun dalam bentuk sekrup pembuka botol yang disesuaikan dengan perputaran spiralis ujung penis babi jantan. Pada kuda, rongganya lurus dengan lipatan memanjang berbentuk seperti corong sehingga mudah didilatasi secara manual.
            Serviks berfungsi untuk mencegah masuknya mikroorganisme atau benda-benda asing ke lumen uterus. Pada saat estrus, serviks akan terbuka sehingga memungkinkan sperma memasuki uterus sehingga terjadi pembuahan serta menghasilkan cairan mucus yang keluar melalui vagina. Pada saat hewan bunting, serviks menghasilkan sejumlah besar mucus tebal yang dapat menutup atau menyumbat mati canalis servicalis sehingga mencegah masuknya materi infeksius ke dalam uterus serta mencegah fetus keluar. Sesaat sebelum partus, penyumbat serviks mencair dan serviks mengalami dilatasi sehingga terbuka dan memungkinkan fetus beserta selaputnya dapat keluar.


5. Vagina
Vagina merupakan saluran kelamin betina yang berfungsi sebagai tempat penumpahan semen. Vagina juga merupakan jalur pengeluaran fetus dan plasenta pada saat partus.
Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis, dorsal dari vesica urinaria, dan berfungsi sebagai alat kopulatoris (tempat deposisi semen dan menerima penis), serta sebagai tempat berlalu bagi fetus sewaktu partus. Legokan yang dibentuk oleh penonjolan serviks ke dalam vagina disebut fornix. Himen adalah suatu konstriksi sirkuler antara vagina dan vulva. Himen dapat menetap dalam berbagai derajat pada semua spesies dari suatu pita sentral tipis dan vertikal sampai suatu struktur yang sama sekali tidak tembus (himen imperforata).
            Vagina sapi mempunyai panjang 25,0--30,0 cm dan pada domba 7,5--10,0 cm. pada keduanya ditemukan sisa-sisa saluran Wolfii. Pada kuda, panjangnya 20,0--35,0 cm dan pada babi 7,5--11,5 cm; sisa-sisa saluran Wolfii jarang ditemukan.
Gambar Organ reproduksi betina mamalia
Gambar Organ reproduksi wanita
SIKLUS MENSTRUASI

Menstruasi adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause. Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus.
Pada wanita siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua wanita memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang siklus terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari. Biasanya, menstruasi rata-rata terjadi 5 hari, kadang-kadang menstruasi juga dapat terjadi sekitar 2 hari sampai 7 hari paling lama 15 hari. Jika darah keluar lebih dari 15 hari maka itu termasuk darah penyakit. Umumnya darah yang hilang akibat menstruasi adalah 10mL hingga 80mL per hari tetapi biasanya dengan rata-rata 35mL per harinya.

Fase menstruasi, yaitu, luruh dan dikeluarkannya dinding endometrium dari tubuh. Hal ini disebabkan berkurangnya menurunnya kadar hormone estrogen dan progenteron. Fase pra-ovulasi, yaitu, masa pembentukan dan pematangan oosit dalam ovarium yang dipicu oleh peningkatan kadar estrogen dalam tubuh. Fase ovulasi, yaitu masa subur atau ovulasi adalah suatu masa dalam siklus menstruasi wanita dimana oosit yang matang siap untuk dibuahi. Fase pascaovulasi, yaitu, masa kemunduran oosit bila tidak terjadi fertilisasi. Pada tahap ini, terjadi kenaikan produksi progesteron sehingga endometrium menjadi lebih tebal dan siap menerima embrio untuk berkembang. Jika tidak terjadi fertilisasi, maka kadar hormon seks dalam tubuh akan menurun dan terjadi fase menstruasi kembali.
Siklus Estrus
           
Pada hewan betina sekali pubertas telah tercapai dan musim reproduksi telah dimulai, estrus akan terjadi pada hewan betina yang tidak bunting menurut suatu siklus yang teratur dan khas. Estrus atau birahi adalah periode atau waktu hewan betina siap menerima pejantan untuk melakukan perkawinan. Interval waktu antara timbulnya satu periode estrus kepermulaan periode estrus berikutnya disebut siklus estrus. Saluran reproduksi hewan betina akan mengalami perubahan-perubahan pada interval-interval tersebut. Siklus estrus dikontrol secara langsung oleh hormon-hormon ovarium dan secara tidak langsung oleh hormon-hormon adenohipofise.
            Berdasarkan frekuensi terjadinya siklus estrus, hewan dibedakan menjadi tiga golongan. Golongan pertama,hewan monoestrus yaitu hewan yang hanya satu kali mengalami periode estrus per tahun, contohnya beruang, srigala, dan kebanyakan hewan liar. Golongan kedua, hewan poliestrus yaitu hewan-hewan yang memperlihatkan estrus secara periodik sepanjang tahun, contohnya sapi, kambing, babi, kerbau dan lain-lain. Golongan ketiga, hewan poliestrus bermusim yaitu hewan-hewan yang menampakkan siklus estrus periodik hanya selama musim tertentu dalam satu tahun, contohnya domba yang hidup di negara dengan empat musim.

Fase-fase Siklus Estrus
            Menurut perubahan-perubahan yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan selama siklus estrus maka siklus estrus dibedakan menjadi empat fase yaitu proestrus, estrus, metestrus/postestrus, dan diestrus. Pembagian yang lain berdasarkan perkembangan folikel dan pengaruh hormon maka siklus estrus dibedakan menjadi fase folikuler atau estrogenik yang meliputi proestrus dan estrus, serta fase luteal atau progestational yang terdiri atas metestrus/postestrus dan diestrus. Lama berbagai periode siklus estrus pada beberapa hewan tercantum pada Tabel 8. Secara umum, siklus birahi pada babi, sapi, dan kuda berkisar antara 20—21 hari, sedangkan pada domba 16—17 hari.

Tabel 1. Lama berbagai periode siklus estrus pada hewan peliharaan
Jenis ternak
Proestrus (hari)
Estrus
Metestrus (hari)
Diestrus (hari)
Sapi
3
12—24 jam
3—5
13
Kuda
3
4—7 hari
3—5
6—10
Babi
3
2—4 hari
3—4
9—13
Domba
2
1—2 hari
3—5
7—10

1. Proestrus
            Proestrus merupakan periode sebelum hewan mengalami estrus yaitu periode pada saat folikel de Graff sedang tubuh akibat pengaruh FSH dan menghasilkan estradiol dengan jumlah yang semakin bertambah. Sistem reproduksi melakukan persiapan-persiapan untuk melepaskan ovum dari ovarium. Folikel atau folikel-folikel (tergantung spesiesnya) mengalami pertumbuhan yang cepat selama 2 atau 3 hari, kemudian membesar akibat meningkatnya cairan folikuler yang berisi hormon estrogenik.
            Estrogen yang diserap oleh pembuluh darah dari folikel akan merangsang saluran reproduksi untuk mengalami perubahan-perubahan. Sel-sel dan lapisan bersilia pada tuba falopii pertumbuhannya meningkat, mukosa uteri mengalami vaskularisasi, epitel vagina mengalami penebalan dan terjadi vaskularisasi, serta serviks mengalami elaksasi secara gradual. Banyak terjadi sekresi mukus yang tebal dan berlendir dari sel-sel goblet seriks, vagina bagian anterior, dan kelenjar-kelenjar uterus. Pada sapi dan kuda terjadi perubahan dari mukus yang lengket dan kering menjadi mukus kental seperti susu, dan pada akhir proestrus berubah lagi menjadi mukus yang terang, transparan, dan menggantung pada vulva. Corpus luteum dari periode sebelumnya mengalami vakuolisasi, degenerasi, dan pengecilan secara cepat.


2. Estrus
            Estrus merupakan periode yang ditandai oleh keinginan kelamin dan penerimaan pejantan oleh hewan betina. Selama periode estrus, umumnya betina akan mencari dan menerima pejantan untuk kopulasi. Folikel de Graff menjadi matang dan membesar, estradiol yang dihasilkan folikel de Graff akan menyebabkan perubahan-perubahan pada saluran reproduksi yang maksimal. Selama atau segera setelah periode ini terjadi ovulasi akibat penurunan FSH dan meningkatka LH dalam darah.
Pada periode ini, tuba falopii mengalami perubahan yaitu menegang, berkontraksi, epitelnya matang, cilianya aktif, dan sektesi cairan bertambah. Ujung oviduk yang berfimbria merapat ke folikel de Graff untuk menangkap ovum matang. Uterus akan berereksi, tegang, dan pada beberapa spesies akan mengalami oedematus. Suplai darah meningkat, mukosa tumbuh dengan cepat dan lendir disekresikan. Serviks mengendor, agak oedematus, dan sekresi cairanya meningkat. Mokosa vagina sangat menebal, sekerinya bertambah, epitel yang berkornifikasi tanggal. Vulva mengendor dan oedematus pada semua spesies, pada babi sangat jelas. Pada sapi terdapat leleran yang bening dan transparan  seperti seutas tali menggantung pada vulva. Pada akhir estrus terjadi peningkatan leukosit yang bermigrasi ke lumen uterus.

3. Metestrus/Postestrus
            Metestrus merupakan periode segera setelah estrus, ditandai dengan pertumbuhan cepat korpus luteum yang berasal dari sel-sel granulosa yang telah pecah di bawah pengaruh LH. Metestrus sebagian besar berada di bawah pengaruh hormon progesteron yang dihasilkan korpus luteum. Kehadiran progesteron akan menghambat sekresi FSH sehingga tidak terjadi pematangan folikel dan estrus tidak terjadi.
            Pada periode ini, uterus mengadakan persiapan untuk menerima dan memberi makan embrio. Pada awal postestrus, epitelium pada karunkula uterus sangat hiperemis dan terjadi hemoragis kapiler yang menyebabkan terjadinya pendarahan. Sekresi mukus menurun dan diikuti pertumbuhan yang cepat dari kelenjar-kelenjar endometrium. Pada pertengahan sampai akhir metestrus, uterus agak melunak karena otot-ototnya mengendor. Apabila tidak terjadi kebuntingan maka uterus dan saluran reproduksi yang lain akan beregresi kekeadaan kurang aktif.

4. Diestrus
            Diestrus merupakan fase terakhir dan terlama dalam siklus estrus ternak-ternak mamalia. Korpus luteum menjadi matang dan pengaruh progesteron menjadi dominan. Endometrium menebal, kelenjar uterina membesar, dan otot uterus menunjukkan peningkatan perkembangan. Perubahan ini ditunjukkan untuk mensuplai zat-zat makanan bagi embrio bila terjadi kebuntingan. Kondisi ini akan terus berlangsung selama masa kebuntingan dan korpus luteum akan dipertahankan sampai akhir masa kebuntingan.
Serviks menutup rapat untuk mencegah benda-benda asing memasuki lumen uterus, mukosa vagina menjadi pucat, serta lendirnya mulai kabur dan lengket. Apbila tidak terjadi kebuntingan, maka endometrium dan kelenjar-kelenjarnya beratrofi atau berregresi keukuan semula. Folikel-folikel mulai berkembang dan akhirnya kembali ke fase proestrus.
Pada  beberapa spesies yang tidak termasuk golongan poliestrus atau poliestrus bermusim, setelah periode diestrus akan diikuti anestrus. Anestrus yang normal akan diikuti oleh proestrus. Secara fisiologis, aneastrus ditandai oleh ovarium dan saluran kelamin yang tenang dan tidak berfungsi. Anestrus fisiologis dapat diobservasi pada negara-negara yang mempunyai 4 musim, yaitu musim semi dan panas pada domba serta selama musim dingin pada kuda. Selama anestrus, uterus kecil dan kendor, mukosa vagina pucat, lendirnya jarang dan lengket, serta serviks tertutup rapat dengan mukosa yang pucat. Aktivitas folikuler dapat terjadi dan ovum dapat berkembang tetapi tidak terjadi pematangan folikel dan ovulasi.

Pengaturan Hormonal pada Siklus Estrus
            Pada dasarnya, pola siklus estrus sama tetapi berbeda antar spesies. Siklus estrus secara langsung diatur oleh hormon-hormon tetapi secara tidak langsung oleh hormon adenohipofise. Pengaturan hormon pada siklus estrus tergantung sirkulasi hormon di dalam pembuluh darah hewan betina dan reaksi organ target dari hormon yang bersangkutan.







Jumat, 19 Juni 2015

Anatomi Organ Reproduksi Jantan

a.    Testis
     Pada saat individu masih menjadi embrio dini, gonad indeferen pada betina akan  berdiferensiasi menjadi ovarium dan untuk  jantan menjadi testis. Pada mamalia, testis mengalami penurunan, tetapi tetap tinggal pada posisi disekitar daerah testis itu berasal. Pada kehidupan mahluk hidup, fungsi testis ada dua macam, yaitu : memproduksi  hormon androgen (hormon seks jantan)  danmenghasilkan spermatozoa ( gamet jantan).
     Nama lain dari testis adalah testi culus atau orchid, merupakan  organ reproduksi primer ternak jantan, baik pada organ reproduksi ternak ruminansia atau non ruminansia atau pun pada ternak ungas.
     Testis juga  merupakan bagian alat kelamin yang utama atau disebut organ kelamin primer karena bersifat esensial yaitu menghasilkan sperma  dan menghasilkan hormon kelamin jantan yaitu testosteron atau hormon androgen.
     Pada hampir  semua spesies testis berkembang didekat ginjal yaitu pada daerah krista genitalia primitif. Pada ternak ruminansia/non ruminansia, testis mengalami penurunan yang cukup jauh dan dilindungi oleh  scrotum, karena pembentukan sperma akan rusak apabila suhu  testis sama  dengan suhu tubuh. Pada kelas  mamalia (termasuk ternak ruminansia/non ruminansia ) testis ada sepasang dan terletak di daerah prepubis  dan terbungkus dalam kantong  yang disebut scrotum.
     Dalam pembentukan spermatozoa dibutuhkan suhu yang rendah, sehingga agar suhu scrotum tetap konstan, maka scrotum dilengkapi dengan suatu jaringan yang bersifat sebagai termoregulator. Dengan demikian maka suhu scrotum akan selalu dalam lingkungan yang lebih cocok yaitu selalu dalam kondisi lebih rendah dari suhu tubuh.Didalam scrotum berisi dua lobi testis yang masing-masing lobi mengandungsatu testisyang  digantung olehfuniculus spermaticus.
     Bentuk, ukuran, berat dan letak testis tiap species hewan cukup bervariasi. Namun pada umumnya bentuk testis adalah oval memanjang kearah vertikal didalam skrotum. Testis terbungkus oleh kapsul berwarna putih mengkilat yang disebutdengantunika albugenia. Pada sudut posterior, organ ini terbungkus oleh selaput atau kapsula yangdisebut sebagai mediastinum testes. Kapsula testes merupakan selaput tipis yangmeluas mengelilingi mediastinum hingga tunika albugenia dan membagi testesmenjadi 250-270 bagian berbentuk pyramid yang disebut lobuli testes.
     Isi dari lobulusadalah tubulus seminiferus atau tubulus  spermaticusyang merupakan tabung kecil panjang dan berkelok-kelokmemenuhi seluruh kerucut lobules.Kira-kira 80% dari berat testis pada seekor sapi jantan normal terdiri dari tubuli.Panjang tubuli pada kebanyakan  sapi jantan dewasa adalah sekitar  4,5 meter, dan setiap tubulus bergaris tengah 200 mikron lebih sedikit.
Pada sapi jantan garis tengah tubuli bervariasi dari 207-296 mikron. Muara tubulus seminiferus terdapat pada ujungmedial dari kerucut. Pada ujung apical dari tiap-tiap lobules akan terjadi penyempitanlumen dan akan membentuk segmen pendek pertama dari sistem saluran kelaminyang selanjutnya akan masuk ke rete testes. Dinding tubulus seminiferus terdiri daritiga lapisan luar ke dalam yaitutunika propia, lamina basalis, dan lapisan epithelium.
1)  Testis berbagai jenis ternak
a)   Testis sapi
Testis sapi  mempunyai panjang berkisar 10-13 cm, lebar berkisar 5-6,5 cm dan beratnya 300-400 gr.
b)  Testis domba
Berat testis domba dewasa adalah 200 gram. Testis domba umumya sudah turun pada waktu lahir, akan tetapi perkembangannya yang sempurna dari organ reproduksi baru tercapai pada masa pubertas.
c)   Testis babi
Testis babi sangat besar tapi relatif lebih lunak, dan terletak horizontal di dalam scrotum. Testis berbentuk lonjong, panjang 10 - 15 cm, diameter 5 - 9 cm, berat (dua testes ) antara 500 - 800 gram, rata-rata 600 gram. Tubuli seminiferi mencapai panjang 600 meter. Domba dan kuda ukuran testisnya lebih kecil.
d)  Testis kelinci
Kelinci mempunyai  testis sepasang testis yang berbentuk ovoid. Mempunyai panjang kira­-kira 25 mm dengan berat sekitar 2 gram, tergantung pada umur, berat badan dan bangsa kelinci.
e)   Testis unggas
Pada ternak unggas, testisberbentukbulat seperti kacang atau buah buncis dan berwarna terang (putih krem). Besarnya tergantung pada umur, strain, musim, dan pakan.
2)     Fungsi testis
Testis pada ternak  jantan dewasa yang normal mempunyai dua fungsi yangpenting, yaitui untuk memproduksi spermatozoa hidup dan subur serta memproduksiandrogen atau hormon kelamin jantan yakni testosteron yang dihasilkan oleh sel-sel interstitial atau disebut  sel Leydig. Testosteron adalah hormon yang berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan sexual dari pejantan. Apabila sel leydig terganggu maka produksi testosteron akan terganggu pula.

     Tidak seperti ternak betina yang mengenal siklus berahi, tanda-tanda berahi, lama berahi, ovulasi maupun  fertilisasi. Kejadian pada ternak betina ini tidak terjadi pada hewan jantan. Hewan jantan akan memproduksi sel spermatozoa secara terus menerus tanpa ada hentinya.

3)     Faktor – faktor yang mempengaruhi produksi spermatozoa.
Kualitas dan jumlah sperma yang diproduksi, tergantung dari kondisi pakan yang dikonsumsi, terutama tingkat protein yang terkandung dalam pakan tersebut. Salah satu  jenis hewan jantan yang agak  berbeda  kegiatan reproduksinya adalah rusa. Tidak seperti ternak jantan lainnya, rusa  mempunyai siklus libido, dimana hanya pada musim-musim ranggah mengeras saja rusa mau memperlihatkan tingkahlaku  sexualitasnya. Pada saat itu produksi hormon testosteron tinggi. Pada  musim-musim tersebut  rusa jantan akan  mencari  betina berahi dan melakukan perkawinan.  Sedangkan pada kondisi ranggahnya  masih muda, maka rusa-rusa tersebut tidak pernah menandakan perilaku sexnya, walaupun  disekitar ada betina yang berahi.

a.       Epididymus
   Epididymis adalah saluran reproduksi jantan paling ujung/ awal. Organ ini merupakan suatu struktur memanjang yang bertaut rapat pada testis, mengandung ductus epididymidis yang sangat berliku-liku.  Panjang epididymus dapat mencapai lebih dari 40 meter pada sapi  jantan dewasa.
   Epididymis dapat dibagi atas kepala, badan dan ekor.  Kepala epididymis(Caput Epididymis) membentuk suatu penonjolan dasar dan agak berbentuk bengkok yang dimulai pada ujung proximal  testis
Pada umumnya epididymus berbentuk huruf U. Ukuran organ ini  berbeda-beda dan menutupi seluas satu pertiga dari bagian testis. Saluran epididymis tersusun dalam lobuli dan mengandung ductuli efferentestestis.
   Saluran tersebut terakhir yang menghubungkan  rate testis dengan saluran epididymis yang berjumlah 13-15 buah. Dekat ujung proximal testis, caput epididymis menjadi pipih dan bersambung ke badan epididymis(corpus epididymis) yang berbentuk langsing dan berjalan distal sepanjang tepi posterior testis.Pada ujung testiscorpus menjelma menjadi ekor (cauda epididymis)

tabel  2. Ukuran panjang epididymus pada  berbagai jenis ternak
No
Nama /jenis ternak
Panjang epididymis
1
2
3
4
Sapi
Babi
Kuda
Kerbau
±  40 meter
±  60 meter
±  80 meter
Caput : 4,93 meter ,  Corpus : 2,2 cm
Cauda : 2,2 cm
Sumber :  Mozes (1979)

1)  Bagian-bagian  epididymus
Saluran epididymus dapat dibedakan menjadi :
a)   Kepala epididymus (caput epididymus), bagian dari epididymus yang melekat pada bagian ujung dari testis dimana pembuluh-pembuluh darah dan syaraf masuk. Bagian ini lebih besar daripada bagian yang lain.
b)   Bagian badan atau leher (Corpus epididymus) adalah bagian yang sejajar dengan aksis longitudinal dari testis. Ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan pada bagian kepala. Bagian ini menjulur terus ke bawah sampai hampir melewati testis.
c)   Bagian ekor (Cauda epididymus), yaitu berupa jendolan di ujung bawah dari testis. Bagian ekor ini terletak  langsung dibawah corpus, yang mulai berbelok keatas.

2)  Fungsi  epididymus diantaranya :

a)   Transportasi
Epididymis mempunyai fungsi sebagai sarana transportasi bagi spermatozoa. Lama perjalanan spermatozoa dalam epididymis dipengaruhi oleh :
·         Jenis ternak.  Pada berbagai jenis ternak berbeda, lama perjalanan sperma berbeda pula.  Seperti pada  domba adalah 13-15 hari,  sapi = 9-11 hari, dan babi  =9-14 hari.
·         Tekanan dalam tubuli seminiferi. Tekanan  yang diakibatkan oleh produksi spermatozoa baru dari dalam tubuli seminiferi akan  menyebabkan tekanan pada rete testis dan  ductus epididymis.
·         Pemijatan. Gerakan spermatozoa dapat  juga ditimbulkan oleh adanya pemijatan pada testis dan epididymis
·         Exercise. Pada ternak yang memperoleh latihan atau gerak untuk mempertahankan kondisi tubuh yang baik (exercise), akan mempengaruhi perjalanan spermatozoa
·          Pergerakan spermatozoa dibantu oleh adanya ejakulasi. Selama ejakulasi, kontraksi peristaltik melibatkan otot daging licin epididymis dan tekanan negatif yang ditimbulkan oleh kontraksi vas deferens dan urethra menyebabkan spermatozoa dapat bergerak secara aktif dari epididymis menuju dalam vas deferens dan urethra.

b)  Konsentrasi
   Kondisi  spermatozoa dan cairan asal testis pada saat memasuki epididymisadalah dalam keadaan relatif encer.  Diperkirakan sejumlah spermatozoa pada ternak sapi, domba dan babi adalah  sekitar  100 juta per milimeter. Didalamepididymis spermatozoa konsentrasi sperma ditinggikan (lebih kental) menjadi kira-kira 4 milyar spermatozoa per millimeter. Hal ini terjadi karena sel-sel epithel yang ada pada dinding epididymis mengabsorbsi cairan asal testis. Sebagian besar absorbsi cairan ini terjadi pada caput dan ujung proximal dari corpus epididymis.

c)   Maturasi
   Maturasi adalah pendewasaan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kondisi  spermatozoa yang baru saja masuk ke caput epididymis berasal dari vas efferens tidak memiliki fertilitas dan juga tidak memiliki motilitas. Spermatozoa setelah melewati epididymis, maka akan memiliki fertilitas dan motilitas.
   Jika kedua ujung Caudaepididymis diikat, maka diketahui spermatozoa yang berada terdekat dengan corpus meningkat kemampuan fertilitasnya dalam waktu sampai 25 hari, sedangkan spermatozoa yang terdekat dengan vas deferens menurun kemampuan fertilitasnya. Semakin tua spermatozoa, maka semakin hilang kemampuan fertilnya jika tidak keluar atau bergerak keluar dari epididymis.
   Sementara spermatozoa dalam epididymis, spermatozoa akan  melepaskan butir protoplasma (cytoplasmic droplet) yang terbentuk pada leher spermatozoa selama spermatogenesis.  Sebagai fungsi tempat maturasi (pendewasaan),  sperma menjadi matang di dalam epididymis dan sisa sitoplasma (cytoplasmic droplet) berpindah dari pangkal kepala (proximal droplet). Pematangan atau maturasi sperma dicapai atas pengaruh sekresi dari sel-sel epithel.

d)   Penimbun
   Epididymus juga merupakan tempat untuk menimbun spermatozoa. Pada saat itu spermatozoa belum dapat bergerak. Tempat penimbunan yang paling cocok adalah didaerahepididymus bagian ekor. Hampir 50 persen jumlah spermatozoa terdapat di daerah tersebut.

e)   Ductus  efferentes
   Diantara rete testis dan  ductus epididymus terdapat ductus efferent.  Ductus berjumlah 13 - 15 buah dan menempati kira - kira sepertiga caput epididymidis. Caput epididymis berdiameter 100-300 mm, di dalamnya hanya terkandung beberapa spermatozoa dan mempunyai epithelium yang sanggat khas. Dua macam sel epithelium dan  sel slindrik ditemukan bertaut pada selubung dasarductuli :
·         sel-sel sekretoris dengan granula-granula sitoplasmik yang besar
·         sel-sel bersilia dengan kinocilia (cilia yang motil), semuanya bergerak memukul ke arah luar

f)    Ductus deferens
   Vas deferens atau ductus deferens merupakan sepasang saluran yang merupakan kelanjutan ujung distal dari ekor epidydimis. Pada ujung awalnya ditopang oleh lipatan peritonium, melalui inguinal canal menuju daerah pelvis, kemudian kelenjar bergabung dengan uretra yang mempunyai hubungan dengan kantong urine ( vesica urinaria).
   Vas deferens berlumen lebih besar dan berdinding lebih tebal. Lapisan terdalam disebut lapisan mukosa yang membentuk lipatan longitudinal. Terdiri atas beberapa lapis sel epitel. Yang paling dalam, ke lumen, bentuk batang dan berstereocilia. Lamina propia, jaringan ikat dibawah mukosa mengandung jaringan serat elastis. Disebelah luar lapisan mukosa terdapat lapisan otot polos yang terdiri dari lapisan longitudinal dan sirkuler atau spiral. Sebelah luar lapisan otot ialah lapisan adventitia.
   Ductus vas deferens merupakan saluran yang menghubungkan cauda  epididymis dengan urethra. Dindingnya tebal,  mengandung otot polos yang licin yang berperan dalam pengangkutan spermatozoa. Pada saat ejakulasi dapat mendorong spermatozoa dari epididymus  keductus ejakulatoris yang terdapat dalam ampula. Dekat badan epididymis, vas deferens menjadi lurus dan bersama buluh-buluh darah dan lymphe serta serabut-serabut saraf, membentuk funiculus spermaticus yang berjalan melalui canalis ingualis ke dalam cavum abdominalis.
   Diametervas deferens 2 mm dengan konsistensi sepertitali, berjalan sejajar dengan corpus epididimis. Dekat dengan kepala epididimis, vasdeferens menjadi lurus dan bersama-sama dengan pembuluh darah, lymphe dan sarafpembentuk funiculusspermaticus yang berjalan melalui canalis inguinalis ke dalamcavum abdominal. Kedua vas deferens (kiri dan kanan) terletak sebelah menyebelahdi atas Vesicaurinaria lambat laun menebal dan membesar membentuk ampula ductusdeferens.

·      Ampula
   Ampula  merupakan pembesaran ujung vas deferens di dekat uretra. Amula merupakan bagian Vas deferensyang berlapis tebal tersusun dari otot halus pada dindingnya. Ampula pada setiap jenis ternak mempunyai ukuran yang berbeda. Pada ternak  sapi mempunyai panjang 10 - 14 cm dengan diameter 1,0 - 1,5 cm. Pada  kuda  mempunyai panjang antara 15 - 24 cm dan diameternya 2 - 2,5 cm.Ampulla tidak terdapat pada anjing, babi  maupun unggas
   Selain sebagai alat transportasi spermatozoa, ampula juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan semen untuk sementara dalam waktu yang tidak lama. Dalam ampula ini spermatozoa cepat menjadi tua. Spermatozoa dapat mengumpal dalam ampula selama ejakulasi sebelum dikeluarkan melalui urethra.
·      Scrotum
   Kantong testis disebut scrotum.  Jadi scrotum merupakan suatu kantong yang terbagi oleh septum scroti menjadi dua ruangan, dan masing-masing     terisi oleh testis. Scrotum merupakan suatu kulit yang bentuknya seperti kantong yang ukuran, bentuk dan lokasinya menyesuaikan  dengan testis yang dikandungnya.
   Pada kuda dan ruminansia scrotum terletak di daerah prepubicum. Sedangkan pada babi dan kucing scrotum terletak di daerah anal sedikit sebelah ventral dari anus. Pada anjing scrotum terletak 2/3 dari jarak antara ostium preputiale dan anus.
Kulit scrotum tipis dan sedikit atau tidak berambut. Susunan lapisan scroum dari paling luar adalah :
o   Epidermis: tidak memliki rambut atau sedikit rambut
o   Tunika dartos.  Merupakan selapis jaringan fibroelastik yang bercampur dengan serabut otot polos. Serabut-serabut otot polos ini pada saat cuaca dingin akan berkontraksi dan membantu mempertahankan posisi terhadap dinding abdominal dan pada saat panas akan merelaks dan menyebabkan testis turun menjauhi ruang perut. Dengan demikian maka scrotum dapat mengatur temperatur testis agar temperaturnya tetap dipertahankan 40C -70Clebih rendah dari pada temperatur tubuh. Mekanisme dari sistem thermoregulator ini karena adanya kerja dari dua muskulus yaitu muskulus kremaster externa, muskulus kremaster interna dan tunika dartos.
o   Fasia  superfisialmerupakan lapisan tipis jaringan ikat.
o   Fasia bagian dalam  yang terdiri atas tiga lapis yang sulit dipisahkan apabila dilakukan pembedahan.
o   Tunika vaginalis komunisyang merupakan lapisan luar penutuptestis.
   Fungsi utama scrotum adalah untuk memberikan kepada testis suatu lingkungan yang memiliki suhu 1 - 8oC lebih dingin dibandingkan temperatur rongga tubuh. Fungsi ini dapat terlaksana disebabkan adanya pengaturan oleh sistem otot rangkap yang menarik testis mendekati dinding tubuh untuk memanasi testis atau membiarkan testis atau membiarkan testis menjauhi dinding tubuh agar lebih dingin. Dengan kata lain fungsi scrotum yaitu mengatur temperatur testis dan epidermis agar tidak terlalu rendah dengan suhu tubuh  (termoregulator testes). Scrotum pada kerbau lumpur adalah kecil, hanya kurang lebih 10 cm bila terbentang penuh, sedangkan pada kerbau perah scrotumnya agak lebih besar.
·      Kelenjar Pelengkap
   Kelenjar asesori atau Glandulae vesiculares, terletak di sepanjang bagian pelvisurethra. Kelenjar ini terdiri dari kelenjar vesikularis, kelenjar prostata dan kelenjar bulbouretralis. Kelenjar-kelenjar tersebut menghasilkan suatu sekresi yang dialirkan melalui saluran menuju uretra. Pada waktu terjadi ejakulasi dan bercmpur dengan suspensi cairan spermatozoa serta sekresi ampula dari ductus deferens. Sekresi kelenjar-kelenjar ini akan memperbesar volume semen, disamping itu juga menyediakan larutan buffer, nutrient dan substansi-substansi lain yang ikut menjadi motilitas dan fertilitas semen yang optimal.
   Yang termasuk kelenjar pelengkap adalah sepasang Vesikula seminalis, prostat (yang pada tikus terdiri atas tiga lobi, sedangkan pada mamalia berupa bangunan tunggal), dan sepasang kelenjar bulbo uretra atau kelenjar cowper. Pada berbagai spesies terdapat variasi yang sangat berbeda, baik mengenai ukuran relatifnya maupun bentuk anatomi kelenjar-kelenjar aksesorisnya.

Kelenjar-kelenjar aksesoris ini adalah :
o  Kelenjar vasikuler atauVesicula seminalis
   Kelenjar vesicular ini disebut juga sebagai kelenjar Seminal vesicles, merupakan sepasang kelenjar yang mempunyai lobuler, mudah dikenali karenamirip segerombol anggur, berbonggol – bonggol. Panjang kelenjar ini sama pada beberapa jenis ternak seperti kuda, sapi dan babi yaitu berkisar 13 – 15 cm, tetapi lebar dan ketebalannya berbeda, kelenjar vesicular pada sapi mempunyai ketebalan dan lebar hampir separuh dari yang ada pada babi dan kuda.
   Domba mempunyai kelenjar vesicular jauh lebih kecil, mempunyai panjang kira – kira 4 cm. Saluran – saluran ekskretori kelenjar vesicular terletek di dekat Bifurcationampulla dengan uretra. Pada sapi, kelenjar vesicular memberikan sekresinya lebih dari separuh volume total dari semen dan pada jenis – jenis ternak lainnya rupanya juga sama sebagaimana pada sapi.
   Sekresi kelenjar vesicular mengandung beberapa campuran organik yang unik, yakni tidak dijumpai pada substansi – substansilain di mana saja ada tubuh. Campuran – campuran anorganik ini di antaranya adalah fructose dan sorbitol, merupakan sumber energi utama bagi spermatozoa sapidan spermatozoa domba, tetapi pada kuda dan babi konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar vesicula juga mengandung dua larutan buffer, yaitu phosphate dan carbonate buffer yang penting sekali dalam mempertahankan pH semen agar tidak berubah, karena jika terjadi perubahan pH semen, hal ini dapat berakibat jelek bagi spermatozoa.
   Fungsi yang penting seminal plasma adalah memberikan medium bagi spermatozoa agar hidupnya dapat dipertahankan secara normal setelah ejakulasi. Spermatozoa yang masih berada dalam ampula dari Vas deferens masih belum dapat bergerak. Tetepi setelah bercampur dengan seminal plasma maka segera bergerak.
o  Kelenjarprostat
   Kelenjar prostat merupakan kelenjar tunggal yang terletak di sekeliling dan sepanjang uretra tepat dari bagian posterior saluran ekskretori kelenjar vesicula. Badan kelenjar prostat dapat dilihat pada pembedahan saluran kelenjar dan dapat diraba dengan palpasi pada sapi dan domba, seluruh bagian kelenjar prostat menyatu dengan otot uretra. pada beberapa spesies hewan, sekresi kelenjar ini sedikit berperan dalam peningkatan volume semen. Kelenjar prostat pada babi lebih besar dari pada sapi. Sekresi kelenjar prostat banyak mengandung ion-ion anorganik seperti sodium, klor, kalsium dan magnesium.
o  Kelenjar Bulbouretral (Cowper’s).
   Kelenjar cowper (Glandulae bulbourethrales) terdapat sepasang, berbentuk bundar, kompak, berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil daripada kelenjar cowper kuda yang berukuran tebal 2,5 cm - 5 cm. Kelenjar-kelenjar tersebut terletak di atas uretra dekat jalan keluarnya dari Cavum pelvis. Saluran-saluran sekretoris dari setiap kelenjar bergabung membentuk satu saluran ekskretoris yang panjangnya 2 - 3 cm.
   Kedua saluran ekskretoris kelenjar cowper mempunyai muara kecil terpisah di tepi lipatan mucosa uretra. sekresi yang dihasilkan kecil pengaruhnya terhadap volume cairan semen, cairan yang menetes dari preputium sebelum penunggangan adalah sekresi kelenjar cowper dan prostat, kemungkinan besar fungsinya adalah untuk membersihkan dan menetralisirkan uretra dari bekas urine dan kotor-kotoran lainnya sebelum ejakulasi.
     Kelenjar bulborethal terdiri sepasang kelenjar yang terletak sepanjang uretra, dekat dengan titik keluarnya uretra dari ruang pelvis. Kelenjar ini mempunyai ukuran dan bentuk seperti bulatan yang berdaging dan berkulit keras, pada sapi lebih kecil dibandingkan pada babi. Pada sapi terletek mengelilingi otot daging bulbospongiosum. Sumbangannya pada cairan semen hanya sedikit. Pada sapi, sekresi kelenjar bulborethal membersihkan sisa – sisa urine yang ada dalam uretra sebelum terjadi ejakulasi. Sekresi ini dapat dilihat sebagai tetes – tetes dari preputilium sesaat sebelum ejakulasi.
   Pada babi, sekresinya mengakibatkan sebagian dari semen babi menjadi menggumpal. Gumpalan ini dapat dipisahkan jika semen babi akan digunakan dalam inseminasi buatan. Selama perkawinan secara alami, gumpalan – gumpalan ini menjadi sumbat yang dapat mencegah membanjirnya semen keluar melalui Canalis cervicalis menuju kedalam vagina dari babi betina.
·      Urethra
   Urethra merupakan bagian saluran yang tergantung dari tempat bermuaranya ampula sampai ke ujung penis. Urethra merupakan saluran ekskretoris bersama untuk urine dan untuk semen sehingga disebut saluran urogenitalis. Dan merupakan saluran tunggal yang merupakan perpanjangan dari ampula sampai ke ujungpenis.
   Uretra dapat dibedakan atas tiga bagian : bagian pelvisadalah suatu saluran silindrik dengan panjang 15 - 20 cm, diselubungi oleh otot uretra yang kuat dan terletak pada lantai pelvis;bulbus uretraadalah bagian yang melengkung seputar arcus ischiadicus; dan bagian penis, termasuk kelengkapan penis. Selama ejakulasi, pada sapi dan domba terjadi penyempurnaan konstrasi spermatozoa yang berasal dari Vas deverens. Dan epididymis dengan cairan-cairan dari kelenjar aseksori pada bagian pelvis uretra sehingga terbentuk semen.
Urethra membentang dari  daerah pelvis ke penis dan berakhir pada ujung glands sebagai orificium urethrae externa. Urethra terbagi atas tiga bagian yaitu :
o   Bagian pelvis
o   Bagian yang membengkok
o   Bagian penis
·      Penis  dan Praeputium
   Penis merupakan organ kopulasi pada hewan jantan, yang akan menyemprotkan semen kedalam alat reproduksi betina.Penis juga berfungsi untuk lewatnya urine. Untuk  mengeluarkan semen, penis harus cukup tegang agar dapat menembus celah vulva dan vagina. Ereksi penis disebabkan pembesaran kapiler-kapiler  oleh darah yang terkumpul  pada kapiler-kapiler tersebut  dan mengelilingi urethra. Penis dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :
o   Gland penis yang dapat bergerak bebas
o   Badan (corpus penis)
o   Bagian pangkal  atau akar (crush penis) yang melekat pada ischia arch pada pelvis yang tertutup oleh otot ischiocavernosus.

   Berdasarkan tipe, penis pada hewan jantan dibagi menjadi beberapa  macam yakni :tipe fibro elastis, dan tipe vaskuler. Tipe fibro elastis terdapat pada sapi,kerbau, kambing, domba. penis tipe ini selalu dalam keadaan agakkaku dan kenyal walaupun dalam keadaan tidak aktif atau non-erect, dimanaperbedaan panjang penis antara ereksi dan tak ereksi adalah 3:2. Hal inidisebabkan karena adanya struktur atau bentuk S pada penis yang disebut denganflexura sigmoideus.
   Penis terbungkus oleh Tunica albugenia yang berwarna putih. Penis dilengkapi dengan dua macam perlengkapan yaitu :Musculus retraktor penis yang dapat merelax dan mengkerut dan Corpus covernosum penis yang berfungsi untuk menegangkan penis. Dalam keadaan non aktif. Musculus retractor penis akan mengkerut, kemudian penis akan membentuk huruf  “ S “ sehingga penis dapat tersimpan dalam preputium.
   Penis hewan jantan dewasa berukuran panjang 91,4 cm dan bergaris tengah 2,5 cm. Berbentuk silindris dan sedikit menipis dari pangkal penis ke ujung yang bebas. Bagian ujung penis memiliki sedikit sekali jaringan tegang, kecuali bagian pangkal, jadi penis membesar sedikit pada waktu ereksi dan menjadi lebih tegang. Pada waktu keadaan penis mengendor atau tidak menegang, penis sapi jantan padat dan keras. Dibelakang scrotum,penis tadi membentuk lengkungan menyerupai huruf “ S “, disebut flexura sigmoideus.
   Glands penis pada sapi mempunyai panjang 7,5-12,5 cm dan agak lancip; sedangkan Glands penis pada kambing menyerupai suatu penonjolan filiformis sepanjang 4-5 cm, dengan panjang Glands penis 5-7,5 cm. Penis pada sapi jantan dewasa panjangnya mencapai ± 100 cm diukur dari dari akar sampai ke ujung Glands penis. Penis sapi dalam keadaan ereksi dan pemacekan penis menonjok ke luar dari preputium sepanjang 25-60 cm.

   Pada kambing penisnya memiliki panjang 35 cm dengan flexura sigmoidea yang berkembang baik. Diameternya relatif kecil 1,5-2 cm. Bentuk penis silindris sedikit menipis dari pangkal penis ke ujung yang bebas . Penis domba berukuran panjang 35 cm dengan flaxura sigmoides yang berkembang baik. Diameternya relatif kecil, 1,5 sampai 2 cm, seperti pada sapi. Panjangnya glans penis 5 sampai 7,5 cm. Glans penis mempunyai suatu penonjolan filiformis sepanjang 4 sampai 5 cm, processus uretrae, organ reproduksi kambing jantan hampir sama dengan domba.
   Pada kerbau, organ kelamin hampir sama dengan sapi.  Pada kerbau perah, penisnya menggantung 15 - 30 cm dalam kantong kulit yang dapat berayun dan membentang dari umbilicus ke belakang, sama seperti pada sapi Zebu.
   Praeputium merupakan lipatan kulit yang ada di sekitar ujung penis. Pada ternak-ternak tertentu, praeputium  mempunyai bentuk yang agak khas, sebagai contoh praeputium pada kuda mempunyai lipatan yang rangkap, praeputium pada babi mempunyai divertikulum atau kantong disebelah dorsal dari Orificium preputial, yang mempunyai fungsi untuk mengakumulasi urine, sekret dan sel-sel mati.
   Ereksi merupakan peningkatan turgiditas (pembesaran) organ yang disebabkan oleh pemasukan darah lebih besar daripada pengeluaran yang menghasilkan penambahan tekanan dalam penis. Pada ternak ruminansia, saat ereksi baik panjang maupun besarnya tetap hampir sama, yang terjadi adalah fleksura sigmoid menjadi lurus.
   Ejakulasi merupakan suatu gerak refleks yang mengosongkan epididymus, urethra dan kelenjar-kelenjar aksesoris, dimana ejakulasi ini disebabkan karena adanya rangsangan pada Gland penis atau dapat juga ditimbulkan dengan adanya massase dari kelenjar-kelenjar aksesori melalui rektum atau dengan elektro ejakulator.
   Unggas tidak mempunyai penis secara sempurna. Sebagai alat kopulasi adalah berupa Papila. Alat kopulasi pada ayam berupa papilla (penis) yang mengalami rudimenter, kecuali pada itik berbentuk spiral yang panjangnya 12 - 18 cm. Pada papila ini juga diproduksi cairan transparan yang bercampur dengan sperma saat terjadinya kopulasi. Sedangkan pada kucing,  pada bagian ujung penis  terdapat duri-duri  atau dalam bahasa biologisnya  adalah spina atau papilla numerous.